SHALAT QASHAR DAN SHALAT JAMA
Agama
Islam merupakan agama yang sangat toleran terhadap umatnya. Lihat saja
pembahasan sebelumnya (Bab I dan Bab II). Shalat merupakan amal yang
benar-benar tidak boleh ditinggalkan, karena shalat adalah penentu amal.
Jangankan ditinggalkan yang lalai terhadapnya pun masuk neraka “فويل للمصلي”
Namun dalam hal ini Islam memahami betul kondisi umatnya. Kadang umatnya
memiliki halangan untuk melakukan shalat, maka Islam memberikan rakhsah
atau keringanan yaitu jama’ dan qashar bagi mereka yang memiliki
halangan, kondisinya tidak setiap kondisi diperbolehkannya melakukan
jama’ dan qashar itu. Namun ada ketentuan-ketentuan yang harus memenuhi
diperbolehkannya menjama’ dan mengqashar, yaitu dengan jarak yang
ditempuh + 3 mil, masih dalam perjalanan, muawalah (berkelanjutan) dan
berniat.
Menurut pendapat yang dipilih, boleh mengerjakan jama’ taqdim atau
menjama’ takhir lantaran sakir, misalkan sakit yang sangat payah atau
menimbulkan masyaqah. Namun sebagian ulama lagi mengatakan bahwa shalat
fardhu ketika sakit masih bisa dilakukan dengan duduk atau berbaring
bahkan dengan isyarat, dan pendapat ini masih diperselisihkan
.
Terakhir kami mengutip sebuah kalimat yang terdapat dalam kitab min haj:
“Barang siapa yang mengerjakan ibadah yang diperselisihkan oleh para
ulama tentang syahnya sedangkan dia tidak taqlid kepada pihak yang dapat
membolehkannya, maka wajib mengulang mengerjakannya lagi. Demikianlah
karena keberaniannya melakukan ibadah yang seperti itu dianggap sebagai
abats (main-main, melakukan sesuatu yang tanpa guna).
Biasanya para musafir kalau mengerjakan shalat jama’ sekaligus diqashar (diringkas)15.
Adapun prakteknya sama dengan shalat jama’ taqdim dan shalat jama’
takhir. Hanya saja karena mengerjakannya diringkas, maka shalat dzuhur,
ashar dan isya dilakukan hanya 2 raka’at. Kedua shalat dikerjakan dalam
satu waktu dan jumlah raka’atnya menjadi 2, kecuali shalat maghrib hanya
bisa dijama’ tapi tidak bisa diqashar.
Disamping itu di dalam menjalankan shalat qashar tidak ada tasyahud
awal. Karena di dalam shalat qashar seperti shalat dzuhur, shalat ashar
dan shalat isya’ hanya dikerjakan 2 raka’at. Jadi pada waktu raka’at
yang kedua langsung tasyahud akhir dan salam.
Contoh niat shalat jama’ taqdim qashar:
اصلى فرض العصر ركعتين مجموعا بالظهر جمع تقديم قصرا لله تعالى
“Saya tunaikan dzuhur diringkas 2 raka’at dijama’ taqdim dengan shalat ashar, sekaligus diqashar, karena Allah Ta’ala”.
Contoh niat shalat jama’ takhir qashar:
اصلى فرض العشاء ركعتين مجمعوعا بالمغرب جمع قاخو قصرا لله تعالى
“Saya tunaikan shalat fardhu isya dua rakaat, dijama’ takhir dengan maghrib sekaligus diqashar karena Allah Ta’ala”.
_________________________________
15. Modul Fiqih untuk D2 PPGI, hlm. 94.
B. Shalat Jama’
1. Pengertian Shalat Jama’
Shalat jama’ artinya mengumpulkan dua shalat wajib dalam satu waktu.11 Misalnya, shalat dzuhur dan ashar pada waktu dzuhur atau ashar.
2. Dasar Shalat Jama’
Shalat jama’ hukumnya boleh bagi orang-orang yang sedang dalam
perjalanan berada dalam keadaan hujan, sakit atau karena ada keperluan
lain yang sukar menghindarinya.12 Akan tetapi selain dari perjalanan masih diperselisihkan para ulama.
Shalat wajib yang boleh dijama’ ialah shalat dzuhur dengan shalat ashar
dan shalat maghrib dengan shalat isya. Dasarnya hadits Ibnu Abbas:
كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يجمع بين صلاة الظهر والعصر إذا كان على ظهر سير ويجمع بين المغرب والعشاء - رواه البخاري
“Rasulullah
SAW biasa menjama’ antara shalat dzuhur dengan ashar, apabila beliau
sedang dalam perjalanan dan menjama’ maghrib atau isya”.
Menjama’ shalat isya dengan shubuh tidak boleh atau menjama’ shalat
ashar dengan maghrib juga tidak boleh, sebab menjama’ shalat yang
dibenarkan oleh Nabi SAW hanyalah pada seperti tersebut pada
hadits-hadits Ibnu Abbas.
Adanya orang yang menjamin lima shalat wajib sekaligus pada saat yang
sama adalah perbuatan yang tidak dibenarkan. Orang yang melakukan hal
semacam ini biasanya beranggapan bahwa boleh mengqadha shalat. Padahal
shalat wajib yang ditinggalkan oleh seorang muslim, selain karena haid
atau nifas atau keadaan bahaya maka orang itu termasuk melakukan dosa
besar dan shalat wajib yang ditinggalkannya itu tidak dapat diganti pada
waktu yang lain atau diqadha. Sebagaimana dalam sebuah hadits.
لا قضى فى الصلاة ولكن قضى فى الصوم - الحديث
“... tidak ada qadha dalam shalat tapi qadha itu ada pada puasa” (Al Hadits).
3. Macam-macam Shalat Jama’
Shalat jama’ dibagi pada dua bagian yaitu jama’ taqdim dan jama’ takhir.
Jama’ taqdim ialah melaksanakan shalat dzuhur dan ashar pada waktu
dzuhur; shalat maghrib dan isya’ di waktu maghrib. Sedangkan jama’
takhir ialah melaksanakan shalat dzuhur dan ashar di waktu ashar; shalat
maghrib dan isya’ di waktu isya.
Sabda Rasulullah SAW.
عن
أنس قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا رحل قبل ان تزيغ الشمس اخر
الظهر الى الوقب العصر تم نزل يمع بينهما فإن زاعت قبل ان يرتحل صلى الظهر
تم ركب - رواة البخارى ومسلم
“Dari
Anas katanya: Rasulullah SAW, Apabila berangkat dalam perjalanan
beliau, sebelum tergelincir matahari, maka beliau ta’akhirkan sembahyang
dzuhur ke waktu ashar, kemudian beliau turun (berhenti) beliau jama’kan
keduanya (dzuhur dan ashar) maka jika telah tergelincir matahari
sebelum beliau berangkat, beliau sembahyang dzuhur dahulu, kemudian baru
beliau naik kendaraan” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan juga sabda beliau:
قال
صعاذ بن جبل رضى الله عنه كان النبي صلى الله عليه وسلم قى غزوة تبوك انا
ارتحل قبل ان تزيغ الشمس أخر الظهر حتى يجمعهما الى العصر يصهما جميعا.
واذا ارتحل بعد زيغ الشمس صلى الظهر والعصر جمعا ثم سار. وكان اذا ارتحل
قبل المغرب المغر حتى يصلهما مع العشاء وإذا ارتحل بعد المغرب عجل العشاء
فصلاهما مع المغرب
رواه ابو دود واترمدى-
“Muadz
Ibnu Jabal r.a berkata, “Nabi SAW pada perang tabuk, bila terangkat
sebelum tergelincir matahari, beliau mengakhirkan dzuhur, kemudian
menjama’nya dengan ashar. Tetapi apabila berangkat setelah tergelincir
matahari, beliau menjama’ dzuhur dan ashar (pada waktu dzuhur), lalu
berangkat (meneruskan perjalanannya). Demikian pula bila ia berangkat
sebelum maghrib sehingga ia menjama’nya dengan isya, dan bila berangkat
setelah waktu maghrib beliau menyegerakan isya’ dan menjama’nya dengan
maghrib (jama taqdim)” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).
4. Syarat-syarat Shalat Jama’
Pada hadits di atas sudah jelas bahwa shalat jama’ dibagi pada dua
bagian yaitu jama’ taqdim dan jama takhir. Ada beberapa syarat yang
harus dilakukan ketika akan menjelaskan shalat jama’, baik itu jama
taqdim maupun jama’ takhir.
Adapun syarat jama’ taqdim berdasarkan sebagian ulama ada tiga:13
a. Niat jama’ pada shalat yang pertama sekalipun dalam prakteknya akan dipisahkan dengan salam.
b. Tertib, maksudnya hendak dimulai dengan sembahyang yang pertama (dzuhur sebelum ashar, maghrib sebelum isya’).
c. Muawalah dalam penilaian umum. Dalam hal ini, tidak mengapalah
bila shalat yang dijama’ itu terpisahkan sejenak, tidak cukup melakukan
shalat dua raka’at. Akan tetapi yang lebih utama berturut-turut
seolah-olah satu sembahyang.
Sedangkan syarat jama’ takhir adalah sebagai berikut:14
a. Niat jama’ pada waktu shalat yang pertama.
b. Masih dalam bepergian hingga selesai shalat yang kedua.
5. Tata Cara Shalat Jama’
a. Cara mengerjakan shalat jama’ taqdim
Bila seseorang hendak shalat dzuhur dan ashar pada waktu dzuhur (jama’
taqdim) kerjakanlah shalat dzuhur sampai malam, terus disambung dengan
shalat ashar sampai selesai. Niat shalat ashar yang dijama’ taqdim
dengan shalat dzuhur dikerjakan waktu dzuhur:
اصلى فرضى الظهر اربع ركعات مجموعا بالعصر جمع تقديم لله تعالى
“Saya tunaikan shalat fardu dzuhur empat rakaat, dijama’ taqdim dengan shalat ashar karena Allah Ta’ala”.
b. Cara mengerjakan shalat jama’ takhir
Bila seseorang hendak shalat maghrib dan isya pada waktu isya (jama’
takhir) kerjakanlah shalat isya sampai sama terus sambung dengan shalat
maghrib sampai selesai. Dan pada waktu shalat yang pertama harus
dilakukan niat untuk mengerjakan shalat pada waktu yang kedua. Adapun
niatnya sebagai berikut:
اصلى فرض العشاء اربع ركعات مجموعا باالمغرب جمع تاخير لله تعالى
“Saya tunaikan shalat fardhu isya empat rakaat dijama’ takhir dengan maghrib, karena Allah Ta’ala”.
3. Syarat-syarat Shalat Qashar
Dalam shalat qashar ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan sehingga shalat ini bisa dilakukan.
a. Orang yang sedang bepergian atau merantau dan perjalanan yang dilakukan bukan ma’siat (terlarang). Sebagaimana disebutkan dalam hadits Tsumamah bin syarahbil:
خرجت إلى الن عمر فقلت: ماصلاة المسفر؟ فقال: ركعتين ركعبين الا صلاة المغرب ثلاثا - رواه احمد
“Saya
pernah pergi ke tempat Ibnu Umar, saya bertanya kepadanya: bagaimanakah
shalatnya musafir? Jawabnya: “Dua rakaat-dua rakaat kecuali shalat
maghrib, tiga rakaat” (HR. Ahmad).6
b. Perjalanannya jarak jauh. Tentang berapa (meter/kilo/mil) jarak tempuh yang membolehkan
mengqashar shalat dapat dilihat pada hadits di bawah ini.7
قال انس: مليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم الظهر بلمدينة اربعا وصلت معه العصر بذالحليفة ركعتين (رواه مسلم). قال أنس رضى الله عنه: كان رسول الله اذ خرد مسبرة ثلاثة اميال او ثلاثة فراسخ على ركعتين - رواه مسلم
“Anas
r.a berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah di Madinah empat rakaat
(sebelum safar) dan aku shalat ashar bersama beliau di Dzulhulaifah dua
rakaat” (HR. Muslim).
“Anas r.a berkata: “Rasulullah SAW., apabila melakukan perjalanan tiga mill atau tiga farsakh, shalat dua rakaat” (HR. Muslim).
Dari kedua hadits di atas dapat kita ketahui bahwa jarak perjalanannya
minimal tiga mil atau tiga farsakh. Satu mil + 1.748 m. Jarak antara
Madinah dan Dzulhulaifah + 6 mil. Sedangkan satu farsakh + 8 km atau
4,57 mil, atau jarak perjalanan itu lebih dari satu hari satu malam.
Akan tetapi yang kita dapati pada buku pelajaran fiqih dari mazhab
Syafi’i ditulis bahwa jarak beperbian yang dibenarkan untuk mengqashar
shalat adalah delapan puluh mil atau + seratus dua puluh kilometer. Dan
inilah yang banyak diikuti oleh sebagian umat Islam di negeri kita.
Karena yang ditetapkan oleh Rasulullah adalah tiga mil ke atas, maka
yang lebih utama kita ikuti adalah ketetapan Rasulullah SAW ini.
قال أنس رضى الله عنه: خرجنا مع النبي صلى الله عليه وسلم من المدينة إلى المكة فصلى ركعتين حتى رجعنا الى المدينة, فقلت اقمتم بها شيأ؟ اقمنا بها عشرا - رواه البخارى
“Anas
r.a berkata kami keluar bersama Nabi dari Madinah ke Mekkah. Beliau
shalat dua rakaat sehingga kami kembali ke Madinah. Maka aku bertanya,
“Apakah kalian bermukim di Mekkah? Jawabnya: kami bermukin di Mekkah
selama sepuluh hari” (HR. Bukhari).
Hal yang serupa batas lamanya mengqashar shalat tidak ditentukan itu
dapat kita lihat dari hadits Tsumamah Ibnu Syarahir yang diriwayatkan
oleh Ahmad, ia berkata: “saya menemui Ibnu Umar, lalu saya bertanya
“Apakah shalat musafir itu”? ia menjawab dua rakaat-dua rakaat kecuali
shalat maghrib. “Saya bertanya lagi, apa pendapatmu jika kami berada di
Dzilmajaj?”. Ia balik bertanya, “apakah Dilmajaz itu?” saya menjawab,
“suatu tempat yang kami berkumpul, berdagang, dan tinggal selama dua
puluh lima hari atau lima belas malam”. Ibnu Umar berkata, “Hai anak
laki-laki, saya pernah tinggal di Ajerbeijan. Saya tidak yakin apakah
empat bulan atau dua rakaat”.
Jadi kalau kita lihat dari hadits di atas memang tidak ada ketentuan
untuk batas lamanya mengqashar shalat bagi musafir. Dan mungkin inilah
yang dimaksud oleh sebagian para ulama sebagai salah satu syarat bahwa
shalat qashar masih harus ada dalam bepergian.
c. Shalat yang diqashar itu, shalat adaan (tunai) bukan shalat qadha.
Adapun shalat yang ketinggalan di waktu berjalan boleh diqashar atau
diqadha dalam perjalanan, tetapi yang ketinggalan sewaktu mukim tidak
boleh diqadha dengan qashar sewaktu dalam perjalanan.8
d. Berniat qashar ketika takbiratul ikhram.
e. Tidak bermamum sekalipun sebentar kepada orang yang tidak mengqashar shalatnya, sekalipun juga musafir.9
4. Tata Cara Shalat Qashar
Pada prinsipnya, pelaksanaan shalat qashar sama dengan shalat biasa
hanya saja berbeda pada niat rakaatnya dijadikan 2 rakaat dan tidak ada
tahiyat awal. Jadi setelah dua rakaat maka lakukanlah tahiyat akhir dan
salam.
Contoh niat shalat dzuhur yang diqashar:
نويت اصلى فرض الظهر مقصورة لله تعالى
“Aku tunaikan shalat fardhu dzuhur, diqashar karena Allah Ta’ala”.10